Viral ‘Benur’ Jebak Menteri KKP

oleh -146 views
Benur Lobster. (Dok. KKP)

APAKABAR.CO-SAMARINDA. Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan penagkapan terhadap Menteri Kelautan dan Perikanan yaitu Edhy Prabowo Pada Rabu (25/11/2020) dini hari di Bandara Soekarno Hatta, sepulang Kunjungan Kerja dari Amerika Serikat.

Penagkapan terhadap Edhy Prabowo ini terkait dengan dugaan korupsi dalam ekspor Benur.

Benur sendiri berarti benih udang. Dalam buku ‘Ensiklopedia Kelautan dan Perikanan’ karya Yvonne Indrajati dkk, mendefinisikan “benur : Istilah benih udang yang umum digunakan untuk anak udang pasca-larva.”

Istilah benur digunakan untuk membedakan dengan jenis benih dari binatang lainnya. Misalnya untuk menyebut benih ikan bandeng, istilah yang biasa digunakan adalah ‘nener’. Untuk menyebut benih katak, istilah yang digunakan adalah ‘berudu’.

Dalam konteks ini benur bukan berarti benih udang, melainkan benih lobster. Lobster punya nama ilmiah Panulirus spp.

Dalam Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 12 Tahun 2020 tentang Pengelolaan Lobster, Kepiting, dan Rajungan, istilah yang digunakan bukan benur, melainkan benih bening lobster (Puerulus).

“Benih Bening Lobster (Puerulus) adalah lobster yang belum berpigmen (non pigmented post larva),” demikian bunyi poin nomor 7 Pasal 1 Permen KP Nomor 12 Tahun 2020 itu.

BACA JUGA :  Bentuk Program Pemulihan Ekonomi Nasional untuk Koperasi dan UMKM Mencapai Rp 87 Triliun

 

Serta, perlu untuk diketahui bahwa bisnis di sektor budidaya perikanan sangatlah menjanjikan. Apalagi yang seperti yang kita ketahui bahwa harga dari lobster per ekor sangat mahal.

 

Berikut, adalah alasan mengapa harga lobster mahal :

1. Untuk budidaya lobster sangat sulit

Karena untuk budidaya lobster membutuhkan waktu lama. Lobster termasuk hewan crustacean yang butuh waktu lama untuk tumbuh kembang, memerlukan banyak makan, dan rentan terhadap penyakit.

Saat ini, budidaya lobster secara komersial pertama sedang dikembangkan di Asia. Sehingga, permintaan pasar akan lobster masih mengandalkan penangkapan di alam liar.

2. Biaya pengiriman untuk lobster mahal

Menjaga lobster tetap hidup saat pengiriman menjadi tantangan tersendiri, karena harus tetap dingin dan lembab sambil memiliki cukup oksigen untuk bernafas dan hidup.

Lobster memang rasanya paling enak saat dimasak hidup-hidup dibanding sudah mati. Ketika sudah mati, maka teksturnya manjadi keras dan alot.

Selain itu, lobster mati juga bisa menjadi sarang bakteri dan bisa menginfeksi orang yang mengonsumsinya

3. Lobster sulit diolah

Mengolah lobster bukanlah hal yang mudah lantaran sulit mengeluarkan dagingnya dari kulitnya ketika belum matang. Selain itu, memasaknya sebelum pengemasan dapat menyebabkan daging menjadi keras ketika nanti disiapkan untuk dimakan. Beberapa perusahaan pengolah lobster menggunakan teknologi tekanan air tinggi untuk memisahkan daging dengan lebih mudah, dan menyediakan lobster olahan yang lebih segar untuk didistribusikan.

BACA JUGA :  Ingat! Pendaftaran Kartu Prakerja Gelombang 13 Akan Dibuka Besok

Tetapi, jumlah perusahaan pengolahan lobster yang memiliki teknologi ini masih terbatas.

4. Memiliki jalur distribusi yang panjang

Jalur distribusi lobster panjang, berpindah dari banyak tangan sebelum disajikan di meja restoran. Baik diproses ataupun hidup, lobster berpindah tangan berkali-kali dalam perjalanan dari dasar laut ke piring Anda.

Mulai dari nelayan, pedagang, perusahaan pengolah lobster, restoran, kemudian terakhir ke pembeli. Hal itu yang membuat harga lobster mahal.

5. Kelezatan dan citra mewah lobster

Alasan lain harga lobster mahal adalah citra lobster sebagai makanan mahal sehingga diperlukan banyak uang untuk bisa menikmatinya.

No More Posts Available.

No more pages to load.