SAMARINDA, apakabar.co – Upaya penataan kawasan di Samarinda Seberang terus didorong Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda sebagai langkah memperbaiki kualitas lingkungan sekaligus menata ruang permukiman agar lebih layak bagi masyarakat. Program konsolidasi tanah yang tengah disiapkan diharapkan tidak hanya memperbaiki tata ruang, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup warga di kawasan tersebut.
Konsolidasi tanah merupakan kebijakan penataan kembali penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah (P4T) yang disesuaikan dengan rencana tata ruang. Program ini dilaksanakan dengan melibatkan partisipasi masyarakat guna menciptakan lingkungan yang lebih tertata serta mendukung penyediaan sarana dan prasarana publik yang memadai.
Kepada awak media, Camat Samarinda Seberang, Aditya Koesprayogi, menyampaikan rencana rekonstruksi kawasan sebenarnya telah disiapkan sejak tahun lalu oleh Walikota Samarinda sebagai bagian dari strategi penataan wilayah yang lebih komprehensif.
“Pada tahun 2025 lalu, Pak Walikota sudah berencana untuk mengadakan rekonstruksi tanah dan bangunan di wilayah ini,” Ungkapnya. Selasa (7/4/2026).
Kendati demikian, Aditya mengakui proses sosialisasi kepada masyarakat masih menjadi tantangan tersendiri. Ia menilai masih banyak warga yang belum sepenuhnya memahami konsep konsolidasi tanah.
“Kami sudah minta kepada Dinas Perkim, kiranya barangkali market atau desain dari rekonstruksi tanah itu sudah ada, itu menjadi bentuk promosi yang strategis di masyarakat,” Ucapnya.
Menurutnya, salah satu kendala utama adalah belum adanya visualisasi yang dapat memberikan gambaran nyata mengenai bentuk akhir kawasan setelah direkonstruksi.
“Karena masyarakat itu nggak ada visualisasinya, agak terbatas. Selama ini ya, ada yang bilang oke, ada yang bilang lupa. Karena belum ada visualisasinya,” Jelas Aditya.
Aditya menambahkan, meski ada kemungkinan perubahan ukuran lahan atau rumah, manfaat yang diperoleh masyarakat akan lebih besar, seperti akses jalan yang lebih lebar, sanitasi yang lebih baik, hingga peningkatan keamanan kawasan.
Namun ia juga mengingatkan agar proses rekonstruksi tetap mempertahankan identitas lokal masyarakat, termasuk aktivitas ekonomi tradisional seperti kerajinan dan keberadaan Kampung Tenun yang menjadi daya tarik khas Samarinda Seberang.
“Kita beruntung punya kampung tenun di Kota Samarinda ini. Bahkan saya bilang ke teman-teman saya yang dari luar kota, kalau ke Kaltim singgah ke Samarinda. Ada kampung Tenun, ada Pampang, ada berbagai macam wisata yang tidak ditemui di kota-kota besar. Nah ini yang menjadi nilai jual kota Samarinda dibanding kota-kota lain di Kaltim,” Tutup Aditya. (ADV)




