SAMARINDA, apakabar.coSamarinda Targetkan Ekonomi Nonpertambangan, Kuliner dan Perhotelan Jadi Andalan PADBuatkan gambar ini menjadi resolusi HD Display, tanpa merubah keseluruhannya– Samarinda mulai mengarahkan masa depan ekonominya pada sektor-sektor yang lebih beragam di tengah rencana penghentian aktivitas pertambangan batu bara pada 2026. Pariwisata, kuliner, perhotelan, dan industri diproyeksikan menjadi penggerak baru untuk menjaga pertumbuhan ekonomi sekaligus meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).
Menanggapi hal tersebut, ketua DPRD Samarinda, Helmi Abdullah, menilai langkah tersebut relevan dengan kondisi kota yang memiliki keterbatasan lahan tambang dan membutuhkan sumber pertumbuhan ekonomi alternatif.
Menurutnya, penguatan usaha mikro dan makro menjadi salah satu pendekatan yang perlu diprioritaskan agar kegiatan ekonomi masyarakat tetap berkembang.
“Kalau bicara wilayah memang untuk Samarinda lahan tambangnya terbatas. Jadi, kita lebih menekankan kepada usaha-usaha skala mikro dan makro,” Ungkap Helmi, Selasa (20/10/2026).
Ia menegaskan, strategi pembangunan ekonomi tidak dapat diterapkan secara seragam di seluruh daerah Kalimantan Timur (Kaltim. Setiap kabupaten dan kota memiliki kondisi geografis, potensi sumber daya, serta kebutuhan pembangunan yang berbeda.
Karena itu, daerah yang masih memiliki potensi pertambangan dapat mengoptimalkannya sesuai ketentuan yang berlaku, sementara Samarinda diarahkan untuk memperkuat sektor nonpertambangan.
“Bagi daerah-daerah lain saya kira cukup punya potensi yang sangat besar untuk menggarap tambang itu. Jadi mungkin beda wilayah, beda juga kebijakannya,” Ucap Helmi.
Rencana penghentian aktivitas pertambangan batu bara di Samarinda pada 2026 juga dikaitkan dengan kebijakan penataan ruang daerah. Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2023 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Samarinda disebut menjadi landasan dalam arah kebijakan tersebut.
Dalam masa transisi ini, pengembangan pariwisata, kuliner, perhotelan, dan industri diharapkan mampu membuka peluang usaha baru sekaligus memperluas sumber penerimaan daerah. Helmi menilai, penguatan sektor-sektor tersebut penting agar perekonomian kota tidak terus bergantung pada satu komoditas.
Meski demikian, peralihan dari pertambangan menuju sektor nonpertambangan membutuhkan persiapan yang terukur. Sektor alternatif perlu didorong agar mampu menciptakan lapangan kerja, meningkatkan daya saing usaha lokal, serta memberikan kontribusi nyata terhadap PAD.
Karena itu, penguatan kapasitas pelaku usaha dan penciptaan iklim usaha yang kondusif menjadi bagian penting dalam membangun fondasi ekonomi baru.
Politisi dari partai Gerindra itu berharap perubahan arah pembangunan ini menjadi momentum bagi Samarinda untuk memperkuat perekonomian yang lebih beragam dan berkelanjutan.
Dengan dukungan kebijakan yang tepat, sektor pariwisata, kuliner, perhotelan, dan industri diharapkan semakin berperan dalam menopang perekonomian Samarinda.
“Karena Samarinda ke depan akan lebih fokus ke usaha mikro dan makro untuk pengembangan PAD,” Tutup Helmi. (ADV)




