Antisipasi Banjir, Pemkot Samarinda Tertibkan 33 Kios Bangunan di Gang Ahim

oleh -9 views
Proses Pembongkaran Bangunan Kios di Kawasan Gang Ahim,Jalan PM Noor Samarinda, Selasa (14/9/2021)

SAMARINDA.apakabar.co– Kios bangunan yang berjajar disepanjang jalan masuk Gang Ahim di Jalan PM Noor Kelurahan Sempaja Timur, Kecamatan, Samarinda Utara ditertibkan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda, Selasa(14/9/2021).

Penertiban bangunan kios tersebut dianggap menghambat pembangunan tata kota Samarinda, terlebih dalama atisipasi banjir yang memang menjadi langganan di daerah tersebut dan merupakan salah satu fokus Pemkot Samarinda dalam hal pengendalian.

Dipimpin oleh Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) pembongkaran berjalan sesuai dengan rencana dengan kondusifitas yang tetap terjaga. Walaupun sempat terjadi ketegangan antara personel dan masyarakat karena mempertahankan kios bangunan, namun kondisi tersebut tidak menghalangi dan pembongkaran tetap dilakukan dengan pengawalan ketat dari aparat kepolisian.

Kepala Satpol PP Kota Samarinda, Muhammad Darham mengatakan bahwa terdapat 33 kios yang dibongkar. Kegiatan tersebut juga merupakan agenda dari Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda dalam rangka mengatisipasi banjir. Dijelaskannya bahwa bangunan yang ada di atas drainase khususnya di Gang Ahim beberapa kali sudah tertunda penertibannya. Bahkan sebelum terpilihnya Andi Harun sebagai Wali Kota yang baru.

Ditegaskannya Darham bahwa Wali Kota Samarinda Andi Harun dalam hal melakukan kebijakan tidak semena-mena memerintahkan pembongkaran, karena batas waktu yang diberikan sudah sejak lama yakni selama tiga bulan.

“Dalam waktu yang diberikan itu kita juga memberikan surat untuk membongkar secara mandiri. Ternyata sampai kemarin sesuai dengan batas waktu masih belum dibongkar, bahkan melakukan aksi protes di kediaman Wali Kota tadi malam,” ucapnya.

Dirinya mempertegas bahwa pihak Pemkot Samarinda tetap harus melaksanakan pemongkaran pada hari ini, karena selama waktu berjalan pendirian bangunan tetap masih berjalan dan semakin bertambah.

“Laporan dari pihak kelurahan yang semula hanya 20 saat ini malah bertambah menjadi 33 bangunan,”  sebutnya.

BACA JUGA :  Aliansi Nasional Anti Komunis Kaltim Unjuk Rasa di DPRD Kaltim, Tolak RUU HIP

Informasi yang diterima bangunan kios tersebut dalunya merupakan milik warga namun kini sebagian sudah dipindah tangankan kepada orang lain.

Disebutkan Darhamjuga bahwa personel yang diturunkan pada saat itu terdiri Satpol PP sebanyak 82 orang, kemudian dari pihak kepolisian ada 60 personel, TNI 15 personil dari POM 5 orang kemudian dari Dinas PUPR ada 35 orang, DLH 55 ditambah dari Linmas Kecamatan berjumlah 15. Jadi diperkirakan sekitar 200 personel yang turun dalam penertiban hari ini.

Kalau ada kebijakan dari Wali Kota terkait penundaan pihaknya siap melakukan penundaan, namun kalau tidak ada perintah pembongkaran tetap dikakukan.

“Hari ini harus diselesaikan, kami berharap kalau misalkan pemilik kios melakukan pembongkaran mandiri segera dibongkar hari ini juga,” jelasnya.

Berdirinya kios sendiri menurut informasi yang didapat sejak beberapa tahun yang lalu. Memang pada awalnya kebijakan tersebut diambil dari Wali Kota yang terdahulu namun tidak diberdirikan secara permanen, tapi semakin lama bangunan itu berdiri secara permanen.

Warga meminta waktu tiga hari untuk dilakukan pembongkaran secara mandiri. Tim dari DLH saat ini dalam proses menunggu barang-barang yang sudah tidak terpakai untuk diangkut.

Wali Kota Samarinda Tawarkan Solusi dan Beri Dana Kerohiman

Malam, (13/9/2021) sebelum dilakukan eksekusi pembongkaran oleh personel gabungan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda, warga yang memiliki bangunan kios di Gang Ahim sempat menyambangi kediaman Wali Kota Samarinda Andi Harun untuk menyampaikan protes dan meminta kebijaksanaan.

Saat dikonfirmasi hal tersebut dibenarkan Andi Harun, bahkan diakui AH sapaanya jika beberapa warga merasa keberatan untuk dibongkar dan melakukan protes di kediamannya. Namun hal itu tidak mempengaruhi proses kebijakan yang diambil karena ini menyangkut kepentingan orang banyak.

Dengan sikap tegas Andi Harun tetap melakukan keputusan untuk melakukan penertiban bangunan kios di gang yang menjadi jalan aternatif bagi masyarakat kala banjir menggenangi simpang empat sempaja. Menurutnya penertiban bangunan liar dikawasan tersebut tidak begitu saja dilakukan. Pemkot melalui Camat setempat telah memberi kelonggaran waktu selama 3 bulan.

BACA JUGA :  Tinjau Vaksinasi Massal, Andi Harun : Sesuai Arahan Presiden Maksimal 70 Persen

“Mereka keberatan dibongkar. Meski sempat ada demo di rumah. Tetapi tidak mempengaruhi proses kebijakan yang kita ambil karena ini menyangkut kepentingan orang banyak,” ungkapnya.

Bahkan, dalam mediasi singkat bersama warga pada malam hari, mantan orang nomor satu di Pemkot Samarinda itu telah memberi jaminan uang tali asih sebesar Rp 2,5 juta per kios.

“Kita bantu biaya kerohiman pembongkaran atau tali asih 2,5 juta per bangunan. Mungkin tidak cukup tapi itulah keputusan,” sebutnya.

AH juga mengatakan biaya kerohiman yang diberikan pemkot tidak bersumber dari APBD. Melainkan Pemkot mengusahakan mencari biaya lain di luar anggaran pembangunan.

“Saya sampaikan kepada mereka bahwa ini kota kita sendiri kalau bukan kita sendiri yang berusaha itu tidak cukup,” terangnya.

“Ini pun yang Rp 2,5 tidak menggunakan APBD. Kita carikan dalam bentuk empati kepada mereka. Sehingga saya memutuskan kita carikan uang di luar APBD untuk bantu mereka,” sambungnya.

Ditanya terkait adanya rencana relokasi, Andi Harun menegaskan bahwa Pemkot Samarinda tidak menyediakan rencana relokasi.

Pemkot tidak ingin menjadikan sesuatu yang dalam realisasinya pasti akan sulit. Sebab, banyak tempat di Samarinda yang statusnya sama dengan kawasan Gang Ahim.

“Tidak ada relokasi. Kita tidak boleh mudah menjanjikan relokasi, karena keadaan seperti ini sangat banyak. Tidak mudah memenuhinya. Kita ingin dorong kesadaran bersama. Kita tidak boleh bangun bangunan tanpa izin apalagi di atas drainase. Semua ada aturannya,” pungkasnya.