Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Kabar Terkini

Reaksi Berbeda Masyarakat Tanggapi Nama IKN Nusantara, Dianggap Tidak Mengakomodir Kearifan Lokal

196
×

Reaksi Berbeda Masyarakat Tanggapi Nama IKN Nusantara, Dianggap Tidak Mengakomodir Kearifan Lokal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi Ibu Kota Negara Baru Yang Dinamai Nusantara (HO)

SAMARINDA.apakabar.co– Pemerintah resmi  memberikan nama Ibu Kota Negara (IKN) baru sebagai Nusantara, pada Senin (17/1/2022). Penetapan nama tersebut menuai berbagai respons dari warga masyarakat, baik setuju maupun yang tidak.

Alditya Fakkar Erwandha, salah satu warga masyarakat menjadi satu dari sekian warga yang mengutarakan kesetujuannya terkait nama IKN baru tersebut.

“Ya kalau nama itu selera ya. Tapi apapun namanya yang penting sudah pihak-pihak yang kompeten saya pribadi setuju,” ucapnya.

Dikutif dari halaman vonis.id, Aldi mengungkapkan jika penamaan IKN baru bukanlah sesuatu yang terlalu krusial untuk diperdebatkan. Sebab sejatinya yang lebih utama daripada itu semua yakni tentang kesejahteraan umat, khususnya masyarakat lokal.

“Karena yang lebih penting itu hajat hidup mabsyarakat. Terkait kesejahteraan dan kesetaraan hidup,” sebutnya.

Namun hal berbeda justru disampaikan oleh Aditya Eka Saputra, pria yang berprofesi sebagai videografer tersebut justru tidak setuju dengan pemberian nama Nusantara pada IKN kelak.

Menurutnya, pemberian nama IKN tersebut harusnya lebih mengakomodir muata lokal.

“Enggak setuju. Karena nama itu (Nusantara)  tidak menggambarkan kearifan lokal,” tegasnya.

Adit biasa ia disapa memberikan percontohan, ia menyebut semisal Daerah Istimewa Yogyakarta yang memiliki pemerintahan setingkat gubernur, namun masih tetap mengedepankan kearifan lokal.

“Kalau kaya Jogja itu kan masih ada lokal-lokalnya. Seharusnya pemerintah bisa mempertimbangkan ke arah situ juga,” harapnya.

Hal senada juga diutarakan Sasya Febriani, ia bahkan menilai bahwa penamaan Nusantara sebagai wajah baru IKN di sebagian Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) dan sebagian lain di Kutai Kartanegara (Kukar) itu dinilai Sasya justru membuat kerancuan ketika diucapkan.

Bukan tanpa alasan, dirinya menilai jika pengunaan nama Nusantara telah dimaknai untuk kata ganti Indonesia.

“Misalnya gini, biasa kalo kita mau jalan terus jawab mau ke Jakarta kan enak nyebutnya. Sementara Nusantara itu kan biasa di pake untuk menggambarkan Indonesia secara keseluruhan. Kalau di pakai untuk wilayah yang kecil dan nama tempat jadi agak aneh dan juga seharusnya ada memuat kearifan lokal,” pungkasnya.