SAMARINDA,apakabar.co -Hari kedua Komisi III DPRD Samarinda melakukan tinjauan ke lokasi tambang. Kali ini PT Tiara Bara Borneo (TBB) di Jalan poros Samarinda-Bontang, Kelurahan Sungai Siring jadi rutenya. Jumat 15/10/ 2021.
Kunjungan kali ini merupakan rangkaian kegiatan pasca Komisi III DPRD Samarinda mengumpulkan sejumlah pengusaha tambang batu bara untuk bersama sama mengendalikan banjir khususnya di Kecamatan Samarinda Utara.
Ketua Komisi III Angkasa Jaya Djoerani menjelaskan, kampung Agogo di RT 1 Kelurahan Sungai Siring, Samarinda Utara perlu di perhatikan oleh PT TBB. Sebab, air dari wadah steling pam (SP) perusahaan itu diketahui mengalir ke drainase yang melewati Kampung Agogo.
“Itu juga yang akan di konsultasikan. Air tadi sebagian masuk ke Kukar dan sebagian ke Samarinda,” jelasnya.
Sebab itu, lanjut Angkasa, PT TBB juga menyelesaikan kegiatan pasca tambang sesuai dengan regulasi dengan membuat void sebagai kolam retensi pengendali air.
“Tapi tidak hanya sembarang buat. Harus di ukur berapa kapasitas air yang bisa ditampung,” lanjutnya.
Politisi PDIP ini juga menjelaskan, berdasarkan tinjauan operasi pertambangan PT TBB berasal dari Izin Usaha Pertambangan (IUP). Memiliki satu lokasi penambangan atau pit dengan luas sekitar 500 hektar.
Menurut Angkasa, PT TBB telah melakukan pengendalian air yang cukup baik. Meski demikian, pihaknya masih tak bisa memberikan penilaian langsung. Hasil tinjauan akan di konsultasikan kepada pihak terkait seperti Inspektorat Pertambangan Wilayah Kaltim, Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV, hingga Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) untuk selanjutnya dikaji lagi.
“Sistem penggalian mereka (PT TBB) kalau hujan di masukan dulu ke void, baru kemudian dialihkan ke steling pom (SP) dan diberi kapur, lalu di buang ke alam. Itu cukup baik,” jelas Politisi PDI-Perjuangan itu usai tinjauan.

Terpisah, Kepala Teknik Tambang PT TBB Purnomo membeberkan, perusahaannya beroperasi sejak 2009 lalu. Kendati, sempat vakum ketika harga batu bara internasional menurun. Pihaknya kembali beroperasi mulai 2019, ketika harga batu bara memberikan tanda-tanda kenaikan.
Ia menyatakan, mengenai steling pam dari lokasi penambangan pihaknya selama ini tak mempengaruhi banjir di Kampung Agogo RT 1, Kelurahan Sungai Siring, Kecamatan Samarinda Utara itu.
Dijelaskannya, kondisi kampung Agogo merupakan daerah cekungan, sehingga kerap mengalami banjir akibat limpahan air berasal dari daerah tinggi.
“Air itu dari atas. Kalau di kami saat hujan itu kami tampung dulu di void. Baru kemudian kami pompa saat hujan reda,” tuturnya Purnomo. .
Purnomo menegaskan, “usai melakukan penggalian kami sebisa mungkin tidak akan meninggalkan lubang tambang atau void” ucapnya. (Tim Redaksi apakabar.co)







