SAMARINDA, apakabar.co – Rencana masuknya taksi berargometer dari Grup Blue Bird ke Samarinda memunculkan perhatian terhadap keberlangsungan usaha transportasi lokal. Untuk itu, anggota komisi II DPRD Samarinda meminta Pemerintah Kota (Pemkot), melalui Dinas Perhubungan (Dishub) menyiapkan regulasi dan pengaturan operasional yang matang agar kehadiran operator baru tidak memicu persaingan yang berujung pada gesekan antarpengemudi.
Menurutnya, taksi argometer nantinya akan berhadapan dengan angkutan kota (angkot), ojek online, serta layanan transportasi daring yang lebih dahulu beroperasi.
“Pemerintah kota harus jeli melihat ini, supaya tidak ada gesekan di lapangan. Terutama antar pengusaha, antar sopir, dan antar kendaraan angkot,” Ungkap Viktor sapaan karibnya, Kamis (15/10/2026).
Selain itu, Viktor mengingatkan, persaingan dalam mendapatkan penumpang berpotensi menjadi persoalan apabila tidak diimbangi pengaturan yang jelas. Terlebih, kondisi ekonomi yang masih menantang membuat keberlangsungan pendapatan pengemudi perlu menjadi pertimbangan dalam penyusunan kebijakan transportasi.
“Semua peluang usaha memang terbuka untuk siapa saja. Tapi pesan saya kepada Wali Kota, utamakan pengusaha lokal. Utamakan kendaraan lokal,” Ucap Viktor.
Politisi dari partai Demokrat itu juga menyarankan Pemkot Samarinda mempelajari pengelolaan transportasi di Kota Bogor, khususnya dalam mempertahankan keberadaan angkot di tengah perkembangan layanan transportasi modern.
“Pengalaman daerah lain tersebut dinilai dapat menjadi bahan evaluasi untuk merumuskan kebijakan yang sesuai dengan kebutuhan transportasi Samarinda,” Imbuh Viktor.
Untuk diketahui, Blue Bird telah beroperasi di Balikpapan, antara lain melayani kawasan bandara dan pusat perbelanjaan. Bagi Samarinda, rencana kehadiran operator tersebut menjadi momentum untuk menata sistem transportasi yang mampu mengakomodasi kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga keberlangsungan pengemudi lokal. (ADV)




