Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
BeritaKabar Terkini

Geografi Jadi Biang Banjir Samarinda, Dr Warsilan: Jangan Cuma Salahkan Pemerintah!

380
×

Geografi Jadi Biang Banjir Samarinda, Dr Warsilan: Jangan Cuma Salahkan Pemerintah!

Sebarkan artikel ini
(Foto: Pakar Tata Kota Universitas Mulawarman, Dr. Warsilan/doc)

SAMARINDA – Pakar Tata Kota Universitas Mulawarman, Dr Warsilan, menilai persoalan banjir di Kota Samarinda bukan hanya disebabkan oleh kelemahan kebijakan pemerintah, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor geografis yang sudah ada sejak lama.

Menurutnya, kondisi daratan Samarinda yang hampir sejajar dengan permukaan Sungai Mahakam menjadikan kota ini rawan banjir. Hal ini diperparah oleh pasang surut air laut dan tingginya curah hujan.

“Kalau air laut sedang surut, air hujan bisa cepat mengalir. Tapi saat pasang, genangan berisiko terjadi, apalagi jika hujan deras turun bersamaan,” Ungkap Dr. Warsilan kepada redaksi apakabar.co. Senin (2/6/2025)

Warsilan pun membandingkan dengan kondisi geografis Balikpapan yang berada di daratan lebih tinggi, sehingga aliran air hujan dapat lebih cepat mengalir dan tidak menimbulkan genangan berkepanjangan.

Kendati geografis memegang peranan penting, Warsilan juga menyoroti faktor lain seperti kerusakan lingkungan, tata ruang kota yang semrawut, lemahnya infrastruktur drainase, hingga minimnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan.

“Banjir ini juga akibat pertumbuhan penduduk, masifnya pembangunan perumahan, tambang ilegal, rusaknya hutan, dan kebiasaan membuang sampah sembarangan,” Jelasnya.

Selain itu, Warsilan menilai penanganan banjir harus dilakukan secara multisektor, mulai dari pemerintah kota, provinsi, hingga pusat, dengan dukungan aktif masyarakat.

Dirinya menekankan perlunya pengelolaan drainase yang terintegrasi, penertiban pembangunan, pemulihan fungsi hutan, serta penegakan aturan tata ruang yang konsisten.

“Kuncinya ada di komitmen pemerintah dan partisipasi masyarakat. Kalau infrastruktur drainase, sejauh ini sudah ada perkembangan, walau belum selesai. Tapi tata ruang itu jangan diganggu. Harus sesuai dan terkendali,” Tegas Warsilan.

Warsilan juga menekankan bahwa pengentasan banjir bukan berarti menghilangkan banjir sepenuhnya, melainkan memanajemen genangan agar dampaknya tidak berkepanjangan terhadap kehidupan masyarakat maupun ekonomi lokal.

“Tujuannya agar saat hujan deras dan air pasang datang bersamaan, genangan bisa cepat surut dan tidak menimbulkan kerugian besar,” Tutupnya.