SAMARINDA — Kalimantan Timur (Kaltim) tak hanya terkenal dengan panorama alamnya yang memukau dan budaya yang kaya, tetapi juga memiliki ragam kuliner ekstrem yang memancing rasa penasaran sekaligus nyali para pecinta makanan unik. Beberapa di antaranya bahkan diyakini memiliki khasiat kesehatan, meski tak jarang membuat orang bergidik sebelum mencobanya.
- Sate Lipan

Bagi sebagian orang, lipan mungkin identik dengan hewan berbisa yang menakutkan. Namun di beberapa daerah pedalaman Kaltim, lipan dibersihkan, dibakar, lalu disajikan seperti sate ayam. Warga percaya, daging lipan mampu meningkatkan stamina.
- Sup Ular Piton

Ular piton berukuran besar dipotong kecil, direbus dengan rempah-rempah khas, dan disajikan hangat. Konon, dagingnya rendah kolesterol dan dipercaya sebagai obat tradisional untuk meningkatkan daya tahan tubuh.
- Tumis Kelabang

(Foto: Illustrasi makanan tumis/doc)
Kelabang berukuran jumbo diolah dengan bumbu pedas manis. Teksturnya mirip udang, tetapi dengan aroma khas yang kuat. Masyarakat setempat menganggapnya sebagai lauk eksklusif untuk acara adat tertentu.
- Pepes Kelelawar

(Foto: Illustrasi makanan pepes/doc)
Kelelawar hutan dibersihkan bulu dan isi perutnya, kemudian dibumbui dan dikukus dalam daun pisang. Rasanya gurih dengan aroma rempah pekat. Menu ini banyak ditemukan di daerah hulu Mahakam.
- Telur Penyu

Meski kini peredarannya diawasi ketat demi menjaga populasi penyu, di masa lalu telur penyu menjadi makanan istimewa di pesisir Kaltim. Teksturnya kenyal dengan rasa asin alami.
- Laron Goreng

Hewan terbang yang muncul saat musim hujan ini digoreng garing dan dimakan sebagai camilan gurih. Tinggi protein dan dipercaya baik untuk kesehatan kulit.
- Sup Kelelawar Putih

Jenis kelelawar ini jarang ditemui, sehingga menu ini termasuk langka. Dagingnya direbus lama hingga empuk, dengan kuah bening yang dibubuhi jahe dan serai untuk mengurangi aroma tajam.
Kesimpulan:
Kuliner ekstrem khas Kalimantan Timur bukan sekadar soal keberanian, tetapi juga cermin dari kearifan lokal dan sejarah panjang masyarakatnya dalam beradaptasi dengan alam. Jika berkunjung ke Bumi Etam, Anda bisa mencoba salah satunya — tentu dengan memastikan keamanan dan kelestariannya.






