JAKARTA – Keputusan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) yang mengirim 36 direksi untuk mengikuti pelatihan kepemimpinan di Swiss menuai kritik dari berbagai kalangan.
Salah satu kritik disampaikan oleh Co-Founder Intelektual Muda, Muhammad Sutisna. Dirinya menilai langkah tersebut mencerminkan kurangnya kepekaan terhadap situasi krisis ekonomi yang tengah dihadapi Indonesia.
“Langkah ini mencerminkan kurangnya sense of crisis di tengah krisis ekonomi, serta bertentangan dengan kebijakan efisiensi anggaran yang menjadi pilar utama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto,” ujar Sutisna, dikutip dari rmol.id, Kamis (28/8/2025).
Sutisna juga menyinggung keputusan pemerintah yang telah memangkas anggaran ratusan triliun rupiah demi mendanai program prioritas, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, keputusan Danantara justru bertolak belakang dengan semangat penghematan tersebut.
“Pelatihan di luar negeri ini terkesan elitis dan tidak selaras dengan visi Presiden Prabowo yang menekankan kedaulatan ekonomi dan kesejahteraan rakyat,” Ucapnya.
Ia juga menyoroti meningkatnya ketidakpuasan publik, termasuk gelombang protes di sejumlah daerah seperti Pati, Jawa Tengah. Menurut Sutisna, hal itu seharusnya menjadi peringatan bagi Danantara agar lebih peka terhadap situasi sosial dan ekonomi saat ini.
“Di saat industri banyak yang gulung tikar dan pemutusan hubungan kerja (PHK) meningkat, keputusan untuk mengadakan retret mewah di Swiss justru berpotensi memperlebar jurang ketidakpercayaan publik,” Tegas Sutisna.
Lebih lanjut, Sutisna juga mempertanyakan urgensi penyelenggaraan pelatihan di luar negeri, mengingat Indonesia memiliki banyak tempat yang dinilai layak dan representatif untuk pelatihan kepemimpinan.
“Indonesia kaya akan lokasi seperti pesantren yang tidak hanya hemat biaya, tetapi juga sarat nilai kepemimpinan berbasis kearifan lokal. Mengapa harus ke Swiss? Ini bukan hanya soal biaya, tapi soal keberpihakan terhadap potensi dalam negeri,” pungkas Sutisna. (*)




