Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
BeritaEkbisKabar TerkiniNasional

Harga Batu Bara Menguat, Didorong Prospek Pemangkasan Produksi Global

143
×

Harga Batu Bara Menguat, Didorong Prospek Pemangkasan Produksi Global

Sebarkan artikel ini
(Foto: Harga Batu Bara Menguat, Didorong Prospek Pemangkasan Produksi Global/doc)
(Foto: Harga Batu Bara Menguat, Didorong Prospek Pemangkasan Produksi Global/doc)

 

JAKARTA — Harga batu bara global tercatat mengalami penguatan pada perdagangan Senin (18/8/2025), seiring ekspektasi pemangkasan produksi dari para produsen utama di tengah harga yang terus tertekan dan ketidakpastian ekonomi global.

Diketahui, harga batu bara Newcastle untuk kontrak pengiriman Agustus 2025 naik sebesar US$ 0,15 menjadi US$ 110 per ton. Untuk kontrak September, harga menguat US$ 0,65 ke level US$ 109,75 per ton, sementara kontrak Oktober naik US$ 0,65 menjadi US$ 111,25 per ton.

Sementara itu, harga batu bara Rotterdam menunjukkan pergerakan beragam. Harga untuk kontrak Agustus tercatat stagnan di US$ 99,4 per ton. Namun, untuk kontrak September meningkat sebesar US$ 1,3 menjadi US$ 99,45 per ton, dan Oktober naik US$ 0,9 menjadi US$ 99,95 per ton.

Dikutip dari Reuters, penguatan harga ini terjadi setelah muncul pernyataan dari CEO Thungela Resources, July Ndlovu, yang mengungkapkan bahwa produsen batu bara termal global kemungkinan akan memangkas produksi. Pernyataan tersebut disampaikan pada hari yang sama.

Thungela, eksportir batu bara termal terbesar di Afrika Selatan, melaporkan penurunan laba sebesar 80% pada semester I-2025, menjadi 248 juta rand (setara US$ 14 juta). Penurunan tersebut terutama disebabkan oleh melemahnya harga batu bara global. Perusahaan mencatat, tekanan terhadap harga dipicu oleh ketegangan geopolitik, kenaikan tarif perdagangan, serta gangguan rantai pasok global yang turut memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia.

Selain faktor ekonomi global, tren transisi menuju energi bersih dan peningkatan produksi batu bara domestik di negara-negara seperti China dan India juga turut menekan harga batu bara termal.

Menurut Ndlovu, beberapa produsen besar seperti Indonesia dan Kolombia telah mulai memperlambat produksi, sementara Australia menghadapi gangguan akibat kecelakaan tambang dan kondisi cuaca ekstrem.

“Pemangkasan produksi lebih lanjut kemungkinan akan membantu menyeimbangkan kembali pasokan dan permintaan di pasar ekspor batu bara. Saya memperkirakan disiplin pasokan akan terus berlanjut ke depan,” Imbuhnya.

Thungela mencatat, rata-rata harga jual ekspor batu bara termal dari Afrika Selatan turun 11% pada semester I-2025, sementara dari Australia turun 10%. Meski demikian, perusahaan tetap mempertahankan target produksi tahunan sebesar 12,8–13,6 juta ton dari Afrika Selatan dan 3,7–4,1 juta ton dari tambang Ensham di Australia.