Antisipasi Varian Omicron, Ini Pesan Satgas IDI Terhadap Pemerintah RI

oleh -9 Dilihat
Foto:Ilustrasi/pexels.com

apakabar.co– Virus Covid-19 berjenis Varian Omicron kini mulai terdeteksi diberbagai negara di eropa. Pemerintah masing-masing negara telah mengantisipasi berkembangnya varian tersebut dengan melakukan pengawasan ketat disetiap pintu masuk negara masing-masing.

Begitu pun dengan Indonesia, Ketua Satgas Covid-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Zubairi Djoerban mewanti-wanti pemerintah maupun masyarakat Indonesia agar tidak menyepelekan risiko ancaman varian Covid-19 baru yang disebut varian Omicron.

Ia mengatakan jika pemerintah Indonesia tidak jemawa merespons ancaman varian corona yang pertama kali terdeteksi di Afrika Selatan itu, terutama ketika tren infeksi Covid-19 di Tanah Air yang terus menurun signifikan. Karena menurutnya, ancaman lonjakan kasus Covid-19 di Indonesia akan tetap selalu ada.

“Kita jangan jemawa hadapi Omicron. Ingat penilaian media barat? Penanganan Indonesia terburuk dan baru normal 10 tahun lagi. Itu kata Bloomberg. Lalu, kita bangkit dan membuktikan. Saat ini? Kita cukup baik dan negara asal media ini pun jauh dari baik. Maka itu, jangan jemawa,” kata Zubairi melalui cuitan di akun twitter pribadinya @ProfesorZubairi, Sabtu (27/11/2021) malam.

Dirinya juga meminta pemerintah mulai melakukan upaya mitigasi agar Covid-19 jenis baru yang sudah dikategorikan variant of concern (VoC) oleh WHO ini tidak masuk dan menyebar di Indonesia. Salah satu caranya, adalah dengan membatasi akses penerbangan dari maupun menuju negara tertentu.

BACA JUGA :  Dapat Respons Kementerian PPN/Bapennas RI, Pembangunan Skytrain Menunggu Studi Kelayakan Tim KPBU

Diketahui, Indonesia saat ini hanya membuka penerbangan untuk 19 negara saja, yakni Saudi Arabia, United Arab Emirates, Selandia Baru, Kuwait, Bahrain, Qatar, China, India, Jepang, Korea Selatan, Liechtenstein, Italia, Perancis, Portugal, Spanyol, Swedia, Polandia, Hungaria, dan Norwegia.

“Omicron pertama kali ditemukan dari spesimen yang diambil pada 9 November. Hampir sebulan keliling dunia. Berbagi negara langsung membatasi penerbangan. Indonesia pun harusnya punya mitigasi, termasuk mempertimbangkan untuk batasi akses penerbangan ke dan dari negara tertentu,” lanjut Zubairi.

Lebih lanjut, Zubairi juga meminta Indonesia untuk tetap waspada dan banyak belajar dari lonjakan Covid-19 yang saat ini terjadi di sejumlah negara Eropa. Apalagi, paparnya, sebentar lagi Indonesia akan menghadapi momen Natal dan Tahun baru 2022 yang berdasarkan pengalaman lalu melahirkan lonjakan Covid-19.

Ia juga berpesan agar Indonesia dapat mempertahankan positivity rate atau rasio kasus positif Covid-19 tetap rendah. Selain itu, pemerintah harus tetap menggenjot testing dan tracing dan juga mengakselerasi program vaksinasi Covid-19 di Indonesia.

BACA JUGA :  Kaltim Steril Dua Hari, Warga Samarinda Borong Bahan Makanan di Pasar Tradisional

“Vaksinasi lengkap dipercepat. Jika seluruh rakyat sudah lengkap, baru booster,” ujarnya.

Kementerian Kesehatan sebelumnya mengklaim varian Omicron belum terdeteksi di Indonesia sampai saat ini berdasarkan pemantauan hasil Whole Genome Sequencing (WGS).

Sejauh ini, varian Omicron sudah ditemukan di sejumlah negara selain Afrika, seperti Belgia, Belanda, Ceko, Inggris, Jerman, Italia, Israel, dan Hongkong. Beberapa negara juga sudah membatasi perjalanan internasional itu, seperti Brasil, Inggris, Israel, dan Jepang.

Israel bahkan menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan lockdown total dan melarang warga asing masuk demi mencegah penyebaran Covid-19 varian Omicron.

Sementara itu, Pemerintah Afrika Selatan mengeluh dan merasa mereka “dihukum” karena menjadi negara pertama yang mendeteksi kasus Covid-19 varian Omicron.

Sebab, sejak itu, banyak negara membatasi bahkan melarang perjalanan dari dan ke sejumlah negara Afrika, termasuk Afrika Selatan.

artikel ini telah terbit di www.cnnindonesia.com dengan judul : Satgas IDI Wanti-wanti RI Jangan Jemawa Hadapi Varian Omicron