SAMARINDA.apakabar.co– Wali Kota Samarinda Andi Harun bersama jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) melakukan inspeksi mendadak (sidak) dalam rangka pengecekan dan pemantauan terhadap situasi harga bahan makanan pokok di Samarinda khususnya di Pasar Tradisional Segiri maupun Pasar Modern Lotte Mart, Rabu (8/12/2021).
Ditemui disela-sela pelaksaan sidak, Andi Harun mengatakan jika dirinya menemui beberapa barang yang mengalami kenaikan, pertama yaitu harga cabai yang 80 persen mengalami kenaikan. Kemudian kedelai dan minyak goreng. Untuk minyak goreng sendiri kenaikannya rata-rata sekitar 4-5 ribu rupiah.
“Untuk dipasar tradisional untuk mengantisipasinya berbagai treatment akan kita lakukan, pertama dengan memastikan jika stok yang tersedia aman. Kedua kita juga akan memastikan jalur distribusinya lancar. Ketiga treatment jangka pendek akan kita lakukan dengan melakukan “intervensi”pembelian minyak goreng,” ucapnya.
“Saya sudah meminta kepada PDPAU untuk aktif dalam masalah ini dengan cara melakukan pembelian minyak goreng curah dan melakukan pengemasan,” sambungnya.
Selain pasar tradisional, Lotte Mart Grosir yang merupakan pasar modern juga ditemukan kenaikan harga seperti minyak dan daging menjelang Natal dan Tahun Baru 2021 (Nataru).
Meski demikian, Andi Harun mengutarakan bahwa Pemkot Samarinda tak memiliki ranah atas kenaikan harga yang terjadi di pasar modern, kendati hanya memastikan ketersediaan stok yang ada.
Kedua lokasi yang disidak itu telah dipastikan memiliki stok Bapokting yang cukup hingga perayaan Nataru nanti. Khusus pasar tradisional, pihaknya akan melakukan berbagai perlakuan jangka pendek yang melibatkan Perusahaan Daerah Pergudangan dan Aneka Usaha (PDPAU).
“Kami tadi memastikan stok aman. Karena kadang-kadang harga naik tapi stok langka, itu yang relatif berbahaya. Ini stok aman, tapi harganya mengalami kenaikan, dan untungnya hanya tiga bahan makanan tadi yang mengalami kenaikan,” ucapnya.
Pemkot Samarinda juga akan melibatkan PDPAU dalam beberapa sektor. Seperti wacana pembelian terhadap minyak curah yang notabene-nya dilarang, untuk dikemas kembali oleh PDPAU dan turut diuji Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM).
“Kemudian saya juga minta PDPAU mengecek kampung KB yang memiliki cabai, untuk dibeli dan dilakukan operasi pasar (atau pasar murah),” sebutnya.
Terkait peran PDPAU terkait program kios inflasi, Andi Harun menyatakan bahwa program itu masih diperlukan integrasi dan diusahakan dalam waktu dekat sudah memiliki manfaat.
“Kita juga akan berkoordinasi agar tidak ada permainan harga, kita jaga stok, kita jaga jalur distribusinya, tapi harus juga kita jaga jangan sampai ada penimbunan. Karena kalau ada bisa kategori unsur pidana. Makanya rombongan kita disertai dengan Satgas,” terangnya.
“Kalau ini semua bisa terjaga, maka insyaallah memasuki Nataru dengan persediaan makanan dan bahan pokok yang cukup,” pugkasnya.







