SAMARINDA, apakabar.co — Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menyatakan kesiapan penuh untuk mengadopsi teknologi Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai solusi penanganan sampah perkotaan.
Komitmen ini ditegaskan langsung oleh Walikota Samarinda, Andi Harun, dalam audiensi bersama Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) di Balai Kota, Sabtu (28/3/2026).
Dalam pertemuan itu, Direktorat Pemulihan Lahan Terkontaminasi dan Tanggap Darurat Limbah B3 dan Non-B3 KLH, Amsor menyampaikan sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi daerah, mulai dari kesiapan lahan, pembiayaan pengangkutan, hingga sistem pengelolaan di tingkat tempat pembuangan sementara (TPS).
“Konsepnya menggantikan landfill. Sampah diolah menjadi energi listrik dan dibeli PLN untuk masyarakat,” Ungkapnya.
Menanggapi hal itu, Andi Harun menyatakan kesiapan Samarinda untuk segera mengimplementasikan PSEL. Bahkan, dirinya menyebutkan tidak memerlukan skema aglomerasi dengan daerah lain untuk memulai program tersebut.
“Kalau ditanya siap, kami sangat siap. Bahkan tanpa aglomerasi pun, saya langsung setuju. Harus setuju,” Ucap Andi Haru.
Diketahui, volume sampah di Samarinda mencapai sekitar 600 ton per hari dari sektor rumah tangga dan komersial, belum termasuk sampah dari aliran sungai. AH sapaan karibnya menambahkan pihaknya telah melakukan pembenahan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sambutan dengan mengubah sistem open dumping menjadi sanitary landfill serta melengkapi fasilitas pengolahan air lindi.
Meski demikian, tantangan utama yang dihadapi adalah pembiayaan pengangkutan sampah, terutama jika melibatkan wilayah penyangga seperti Tenggarong, Handil, Muara Badak, hingga Marang Kayu. “Persoalan utama ada di biaya angkut. Ini yang sedang kami hitung, apalagi di tengah efisiensi APBD,” Ujar Andi Harun.
Untuk itu, Andi Harun meminta juga dukungan pemerintah provinsi agar proyek ini dapat segera terealisasi.
“Kalau ada dukungan provinsi, ini bisa lebih cepat terealisasi, tidak hanya untuk Samarinda tapi juga daerah lain,” Pungkasnya. (ADV)




