Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Advetorial

Pastikan Bebas PMK, Pemkot Samarinda Lakukan Penyemprotan Kandang Hewan di Pasar Hewan dan Rumah Potong Hewan

190
×

Pastikan Bebas PMK, Pemkot Samarinda Lakukan Penyemprotan Kandang Hewan di Pasar Hewan dan Rumah Potong Hewan

Sebarkan artikel ini

SAMARINDA.apakabar.co– Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda melalui Dinas Perikanan dan Peternakan bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memastikan hewan-hewan kurban jelalang Lebaran IdulAdha 2022 aman dari penyakit mulut dan kuku (PKM). Kepastian tersebut dilakukan dengan upaya melakukan penyemprotan disinfektan di sejumlah kandang hewan kurban pada, Jumat (8/7/2022) dengan menyasar Pasar Hewan dan Rumah Potong Hewan (RPH) di kawasan Tanah Merah.

Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan, Maskuri mengatakan bahwa tindakan penyemprotan dilakukan guna mengantisipasi terjangkitnya PMK pada sejumlah hewan kurban. 

“Syukurnya sampai detik ini masih dalam zona hijau, tapi giat kali ini tak terlepas dari upaya antisiapasi,” ucapnya.

Dirinya juga memastikan jika penyemprotan dilakukan memakai cairan ramah lingkungan. Pasalnaya, status zona hijau PMK yang disandang Kota Samarinda juga telah melalui surveillance pada sejumlah hewan yang ada.

Dengan menerapkan kebijakan pemerintah pusat, pihaknya aejak 4 Juli yang lalu tidak diperkenankan lagi ada pergerakkan distribusi sapi baik keluar maupun masuk ke suatu daerah. 

“Kami mengawasi sapi yang ada, sebelum kebijakan itu berakhir,” imbuhnya.

Diakui Maskuri bahwa kebijakan tersebut juga berdampak pada kebutuhan hewan kurban disuatu daerah. Tetapi di Kota Samarinda sendiri, jumlah kebutuhan sapi tercatat sebanyak 3.076 ekor. Sedangakn sapi yang ada saat ini berhasil tersata oleh pihaknya sebanyak 3.657 ekor. 

“Ketersediaan kita masih aman, bahkan surplus,” sebutnya.

Walaupun stok hewan kurban terpantau aman, namun dirinya menyampaikan harga hewan kurban tahun ini mengalami kenaikan. Kenaikan tersebut lonjakan diakibatkan karena beberapa prosedur yang perlu dilalui sebelum sapi didistribusikan dari daerah asal.

“Sapi-sapi perlu karantina di daerah asal, terus biaya pengecekkan darah, dan biaya pengiriman, itu yang menjadi salah satu faktor lonjakan harga,” pungkasnya.