SAMARINDA.apakabar.co- Kepala Bagian Ekonomi Sekretariat Kota Samarinda Yuyum Puspitaningrum menyampaikan jika inflasi di Kota Samarinda disebut masih terkendali dan ada diangka 0,22 persen.
“(Inflasi) 0,22 persen itu termasuk normal, kalau untuk negara kita aja itu 5,25 persen dengan urutan ke-5 dalam G20. Belum lagi tadi ditampilkan ada yang inflasinya sampai 9,11 di daerah,” ucapnya beberapa waktu lalu di Balai Kota Samarinda.
Ia mengatakan bahwa untuk mempertahankan stabilnya inflasi itu, pola sistem-sistem di daerah sangat penting untuk ditingkatkan dengan terus lakukan tindakan pencegahan.
Misalnya, dengan adanya Budidaya Ikan Dalam Ember (Budikdamber), penanaman cabai 10 hektar, probebaya mart, pasar murah, pasar tani, hingga pembagian voucher listrik.
Persoalan pengendalian inflasi ini diakuinya termasuk kedalam hal yang darurat, karena tahun 2023 mendatang, negara-negara di dunia diprediksi akan collapse (jatuh).
Hal ini harus menjadi perhatian pemerintah, tak terkecuali provinsi Kalimantan Timur (Kaltim), khususnya Kota Samarinda.
Selain itu, sesuai dengan hasil rapat terkait inflasi, pada Oktober 2022, inflasi tertinggi berada di Tanjung Selor, Kalimantan Utara dengan 9,11 persen. Sementara inflasi terendah berada di Ternate dengan 3,32 persen.
Ia berharap, pemerintah dan masyarakat dapat terus solid dan saling mendukung program pengendalian inflasi yang tengah berjalan, agar dapat benar-benar terwujud.
“Semoga saja tim kita dapat terus solid dan masyarakat terus mendukung apa yang diupayakan oleh pemerintah,” pungkasnya.







