APAKABAR.CO — BANTUL – Puluhan dosen Insitut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang tergabung dalam Aliansi Dosen ASN Kemendiktisaintek (Adaksi) menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Rektorat, ISI Yogyakarta, jalan Parangtritis KM 6.5, Kecamatan Sewon, Bantul, Yogyakarta. Senin (3/2/2025) kemaren.
Aksi unjuk rasa tersebut dilaksanakan untuk menuntut pemerintah segera mencairkan Tunjangan Kinerja (Tukin) yang tidak dibayar sejak tahun 2020.
Koordinator Adaksi wilayah Yogyakarta, Titis Setyo Adi Nugroho mengungkapkan aksi ini adalah bentuk dukungan terhadap aksi yang terjadi beberapa waktu lalu di depan Istana Kepresidenan.
“Kami menuntut tukin sejak 2020 agar dibayarkan,” Ungkapnya saat dihubungi redaksi Apakabar.co. Kamis (6/2/2025).
Lebih lanjut, Titis sapaan karibnya menilai Tukin sangatlah bermanfaat untuk menunjang kualitas tridharma perguruan tinggi yang dilakukan oleh dosen Aparatur Sipil Negara (ASN).
Tak hanya itu, dirinya juga menyebutkan ISI Yogyakarta memiliki sekitar 400 dosen ASN yang saat ini Tukinnya belum terbayarkan.
“Sebetulnya dari tahun 2014 Tukin itu tidak cair. Namun, nomenklatur terbaru itu dari tahun 2020, jadi kami menuntut dari tahun 2020 untuk di bayarkan,” Jelas Titis.
Selain itu, Titis juga menjelaskan nilai Tukin dari dosen-dosen beragam, berkisar 5 Juta hingga 12 Juta.
“Tukin itu tergantung jabatannya, ada yang AA sekitar Rp 5 Juta, Rektor Rp 8 Juta, dan guru besar Rp 12 Juta,” Jelasnya.
“Dosen kalau di Yogyakarta tanpa Tukin hanya menerima gaji setara UMR. Sedangkan di wilayah benar-benar bisa di bawah UMR,” Imbuh Titis.
Sementara itu, Guru Besar Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta, Prof Yudiaryani menambahkan Tukin bertujuan untuk meningkatkan kinerja dan profesionalisme ASN di lingkungan perguruan tinggi, dan diharapkan dapat berdampak pada peningkatan kinerja perguruan tinggi negeri secara menyeluruh.
“Banyak argumentasi hukum yang dijadikan sebagai alasan agar meniadakan pencairan Tukin 2020 hingga 2024. Dan di pemerintahan Prabowo harus segera membuat kebijakan agar terealisasikan pencairan Tukin 2020 hingga 2024,” Tegasnya.
Untuk itu, Yudiaryani berharap agar Tukin bisa dicairkan dalam waktu dekat ini untuk menunjang kinerja para dosen-dosen khususnya di ISI Yogyakarta.
“Jangan sampai tukin tidak dibayarkan hanya karena ketidaktahuan pejabat Kemenristekdikti era Nadiem Makarim mengenai proses birokrasi dan harmonisasi pencairan tukin dosen tahun 2020 hingga 2024” Pungkasnya. (*)







